Pukul 07:02
Wib monitor layar Hand Phone, terbayang
rekaman jadwal perkuliahan untuk hari ini sabtu 15 mei 2010 diantara ribuan sel
otak, Filsafat Pendidikan yang diampu oleh As-Sayyid Drs. H Akrim Mariyat, Dipl,
Ed. Menurut teks, pukul 07:00 Wib tepat perkuliahan sudah harus mengudara. Namun konteks
yang berperan selalu bergelut dengan teks oleh faktor jam terbang yang padat antara
dosen dan mahasiswa.
Perkuliahan
= Wawasan baru yang berteriak memanggil dan menunggu. Teriakkannya terdengar
jelas berselancar mengarungi desiran ombak jarak yang relatif jauh menghampiri selaput
gendang telinga, teriakkannya percis seperti teriakkan salah satu tokoh kartun Kenji adik tunggal Hatori dalam kisah Ninja
Hatori, teriakan berfrekuensi tinggi dan berpotensi menghancurkan apapun yang
dilaluinya. Sempat ditayangkan oleh salah satu stasiun TV beberapa waktu lalu.
Tak kuat
menahan lengkingan teriakannya, tolong bungkam teriakannya!. Satu set peralatan
mandi terkumpul di tangan dari seluruh penjuru ruang lemari yang belum tertata rapi
dampak transisi habitat baru RUSUNAWA dengan fasilitasnya yang masih dalam masa
transisi, fasilitas utama air dan ruang makan unactived.
Untuk
sebuah solusi masalah atau biasa disebut sebagai problem solving oleh para
ahli pendidikan, ribuan langkah ciptaan sepasang kaki kecil melangkah dengan
bekal satu set peralatan mandi lengkap. Mencari fasilitas diujung sisi dunia
lain agar teriakan Kenji tak semakin memekakkan gendang telinga yang hampir
pecah olehnya.
Byar byur dengan
persediaan air yang hampir mencapai puncak kritis. Dua lantunan lagu yang entah
terulang beberapa kali dari pita suara standar. Menemani ekplorasi kekayaan penampungan
air yang semakin kritis, bersama limbah busa putih ciptaan Nuvo Merah dan Pepsodent yang putihnya semakin pupus oleh
kotoran yang mermukim semalaman di seujur tubuh. Kekuatan kesegaran pagi tercipta
dalam jiwa kini cukup untuk membungkam teriakan Kenji.
Kostum pertempuran
lengkap melekat menutup. Siap bertarung memenuhi undangan pertarungan melalui
teriakkan Kenji yang hilang kesabaran untuk segera mengasah kemahiran bertarung menghadapi petarung-petarung
handal. Ribuan langkah kaki kuat menghujam lumpur-lumpur bumi hasil hujan
semalaman, auranya masih kuat terasa ketika pandangan mata naik keatas langit.
Huff!
Langkah kaki berhasil mengalahkan jarak. Arena Tournament pertarungan telah
jelas tertangkap sepasang mata bersama para petarung handal yang lain nampak
berbincang-bincang sembari menanti kedatangan Kenji. Detik waktu berdetik meninggalkan
segala yang tertinggal dibelakang untuk semakin maju kedepan menciptakan
sekumpulan satuan waktu. Kenji tak kunjung tiba, entah jadwal bertarung yang
padat atau entah ada faktor lain melatar belakangi keabsenannya? atau mungkin
sang kakak (Hatori) menghalau langkah kakinya, membisikkan minimnya kemahirannya
dalam bertarung hingga Kenji sada bahwa ia masih terlalu lemah untuk bertarung
menghadapi para petarung handal?. Undangan Kenji terdengar jelas dari kejauhan namun
pupus disaat langkah-langkah kaki datang mendekat. Laksana fatamorgana.